Matinya Kaum Idealis

 “Jadi orang jangan sok idealis dong, biar gak nyesal kemudian, baru aja masuk semester lima udah sok-sokan” Ucap Hendra lima tahun yang lalu sesaat sebelum pemilihan presiden fakultas dilaksanakan. Dia bilang seperti itu karena aku mengkampanyekan pemilihan bebas dan demokratis. Tapi mungkin karena hatinya sudah kotor kalau tidak mau dibilang busuk, apa yang aku lakukan dianggap tidak baik. Sampai sekarang, ucapannya yang memojokkanku ditengah-tengah kerumunan mahasiswa yang hendak mencoblos itu, terus terngiang dalam pikiranku Seakan sudah tercatat dengan tinta emas.
Tak ada maksud untuk mengobrak-abrik suasana demokrasi ala mahasiswa di kampusku. Spontan aku menarik tangan Yesi yang membagi-bagi sertifikat kepada mahasiswa yang hendak mencoblos. Dalam hati, aku bermaksud untuk menghentikan praktik yang tidak waras itu. Setelah ditanya tentang tindakan yang mematikan nilai demokrasi itu, dia pun bungkam seribu bahasa dan tidak memberi tahu alasan membagi-bagi sertifikat berlevel internasional itu. Tapi yang jelas, walaupun dia tidak mengaku, aku bisa membaca maksudnya. Karena Yesi termasuk pada daftar nama tim sukses salah satu kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden fakultas. Tiba-tiba Pikiran negatifku langsung terbang kemana-mana. Sehingga menganggapnya menyogok pemilih agar mencoblos jagoannya. Dan itu dibenarkan oleh teman-teman yang kebetulan masih membenci prilaku kayak itu.

Masih banyak orang yang masih bisa menyadari kesalahannya dengan meminta maaf. Dan seharusnya bagi orang yang masih punya hati, kalau tertangkap basah melakukan tindakan yang mencederai tatanan kehidupan social akan tertunduk malu dan merasa bersalah yang kemudian meminta maaf. Maling kelas kakap dan bajingan tengek sekalipun kalau ketangkap basah, mereka tampak malu dengan menundukkan kepalanya. Tapi tidak dengan Yesi. Sudah terang-terangan melakukan tindakan yang mencederai demokrasi, malah cengengesan dan matanya jelalatan kemana-mana. Bahkan dia lari seakan tak berdosa ketengah antrian mahasiswa yang sudah mendapat nomor antri setelah terlepas dari genggaman tanganku, yang kemudian masih menyempatkan diri melakukan aksi bejatnya, dengan menyodorkan sertifikat kepada mahasiswa lagi. Mungkin dia  masih mengira bahwa perpolitikan kampus itu hanyalah hura-hura yang kalau menyalahi aturan tidak akan ditindak dan tidak akan mendapat hukuman kelak di akhirat. Padahal dunia kampus merupakan miniatur bangsa masa depan. Dan seharusnya kampus dijadikan ladang pengemblengan menjadi manusia yang bermartabat.
Aku jadi teringat pada pemilihan kepala desaku beberapa tahun yang lalu. Ada seorang temanku yang menjadi tim sukses. Dia tertangkap basah melakukan serangan fajar dengan memberikan uang Rp. 20.000 pada tiap warga yang ia datangi. Dalam pengakuannya, ia menyogok pada waktu fajar masih mau menyingsing di ufuk timur, karena waktu itu sangat efektif untuk mengubah sikap para pemilih. Kemudian yang membuat banyak orang gergeran, pengakuan lugunya yang muncul disela-sela situasi yang memanas. Dia bilang bahwa kalau menyogok waktu siang terus ketahuan pasti sangat malu karena mukanya terang kelihatan. Tapi kalau waktu fajar, mukanya agak suram sehingga tidak terlalu malu.
Dia temanku yang sama sekali tidak pernah digembleng oleh pendidikan formal, tapi masih punya rasa malu. Sedangkan Yesi yang bertahun-tahun telah makan pendidikan moral secara formal dan nonformal, sama sekali tidak punya perasaan malu. Intinya pendidikan tidak ngefek bagi perubahan tingkah lakunya. Padahal pendidikan dikhususkan agar membentuk karakter bangsa. Apalagi dunia kampus yang mempunyai jargon agent of change, dimana mahasiswa seharusnya mampu memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Tetapi kalau semasih jadi mahasiswa moralnya sudah seperti moralnya bajingan, bagaimana jadinya nanti setelah terjun ke dunia nyata? Aku yakin kalau agennya sudah hancur, masa depan bangsa akan tambah kacau balau dan sistemnya juga akan ambruk. Apakah mahasiswa yang seperti itu masih pantas dipelihara di dunia ini?
***
“Ya Allah, orang itu memang sudah gila kali!”. Seruhku dalam hati sambil melihat Yesi yang sesekali mengambil handphone dan memencet-mencet. Rupanya dia mengirim sms. tapi aku tidak tahu dikirim ke siapa. Yang jelas aku masih berhusnudzan menanggapinya. Dan dia tidak akan berbuat jahat sama aku, karena dia teman sekelasku yang sering usil ketika ujian minta contekan sama aku. Dan didalam kesehariannya, dia ramah dan santun. Sehingga kalau hanya melihat sekilas, banyak orang akan menganggap bahwa dia sungguh mahasiswi yang agamis dan anti korupsi.   
Dus, tak kusangka suasana akan jadi gawat. Yesi yang menulis sms ternyata dikirim kesalah satu temannya yang bernama Hendra. Dia ditakuti oleh banyak mahasiswa karena sering membuat kerusuhan di kampus.
“Wah, benar-benar tak menyangka Yesi sejahat itu”. Tiba-tiba dua mahasiswa yang terkenal dengan preman kampus yang tercatat sebagai tim pemenengan dari jagoan Yesi menyeretku kedalam toilet, untuk kemudian mereka menerkam dan menerjangku hingga babakbelur.
Tak ada ucapan yang membuatku lemas kecuali ucapan hendra lagi. Tapi dibalik kelemasanku, aku tambah tegar dan yakin bahwa aku masih ada dijalan yang benar. Dan aku yakin Allah masih bersamaku. Ucapannya lagi-lagi menyoal keidealisanku. Padahal aku tidak pernah terbesit sedikitpun untuk menjadi orang yang ideal. Dan aku tidak pantas menyandangnya.
“Sudah aku bilang tadi, masih saja tidak dihiraukan. Jangan jadi orang sok ideal gitu dong! Sekarang kalau masih kayak gitu, gak akan bisa makan dan gak akan merasakan kebahagiaan selamanya, ngerti?”. Tandasnya dengan nada keras yang sesekali butiran ludahnya membasahi muka, bak hujan rintik-rintik yang membasahi dedaunan. Akupun terdampar lemas dilantai toilet yang masih basah dan bau khasnya sesekali menyengat hidungku.
Tanpa merasa bersalah, Hendra dan temannya yang baru saja menggebuki aku hingga memar, keluar dengan gaya jalannya yang berjingrak-jingkrak dan dadanya yang dibusungkan kedepan, ditambah lagi tato di lengan kanannya yang bergambar naga. Kelihatan banget kalau dia orang sombong. “setan” bisikku dalam hati, yang kemudian aku mengucapkan istighfar karena aku merasa berdosa telah memisuinya.
“Krek” bunyi pintu yang dikunci dari luar. “wah gimana cara keluarnya ya?” pikiranku melayang mencari solusi. Sebenarnya aku sudah beteriak untuk tidak dikunci, tapi tidak juga dihiraukan. Hingga aku hanya bisa pasrah mengadu nasib ke hadirat-Nya dan berharap ada orang yang mau membukakan pintu.
Dalam kesendirian dikamar kecil itu, pikiran terus menerawang yang sesekali terlintas dalam benak, sebuah keindahan dan kemakmuran pada negeri yang selama ini aku impikan. Baldatun thayyibatun warabbun ghafur, itulah suasana negeri yang selalu diselimuti oleh cahaya kedamaian, yang pada akhirnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. Tak ada niatan untuk membalas semua perlakuannya, karena aku yakin suatu saat pasti akan mendapat balasan yang setimpal atau bahkan lebih. Dan pada waktunya pula, dia akan merasakan penyesalan.
***
“Krek” bunyi pintu toilet sebelah. Pikiranku yang terbang ke negeri impian, buyar seketika dan aku banyak berharap agar orang itu mau bantu aku dengan membukakan pintu “Alhamdulillah ada orang yang mau dimintai tolong, semoga ja dia mau membantu aku,  tapi….?” Pikiranku meragukan bahwa ia mau membantuku, karena toilet itu tempat cewek sedang aku yang mau minta tolong, cowok. Jadi dapat dipastikan bahwa orang yang ada disebelah adalah cewek dan kalau mendengar suara cowok minta tolong pasti akan ketakutan, karena takut diapa-apain.
Aku jadi bingung. Mau bersuara cewek pasti ketahuan soalnya suaraku sulit dimodifikasi karena aku punya suara yang khas. Akan tetapi dari pada tidak mencoba sama sekali, mending mencoba dengan jujur, barang kali orang itu mau bantu. “mbak, bantuin aku. Tolong bukakan pintu!” pintaku sambil berseru kesakitan. “kamu siapa dan kenapa ada disitu?” dia bertanya penasaran. “aku Iqbal anak Management pendidikan semester lima, aku dianiaya mbak!” jelasku memastikan kalau orang baik-baik. “ya dik, sebentar”. Tegasnya dengan nada keburu.
Rupanya dia mengenaliku dengan suara khasku. Terbukti setelah aku menjelaskan identitas dengan lengkap, dia langsung memanggilku adik. Aku pun mulai menebak-nebak dia, karena suaranya memang tidak asing lagi. “mbak Vida, Alhamdulillah ya Allah engkau mengutus orang untuk menolongku”. Sangkaku yang kemudian aku bersyukur dalam sujud syukurku seraya meneteskan air mata tanda kebahagian.
Ternyata sangkaanku benar. Mbak Vida yang selalu tampil dengan senyuman kini harus mengernyetkan dahinya melihat mukaku yang berdarah. “Astaghfirullah dik Iqbal, kamu kok sampek berdarah kayak gini? sapa yang tega menganiaya kamu?” dia berseru sembari matanya melotot ke arahku seakan dia tidak percaya kalau aku Iqbal. Tak lama kemudian ia mengeluarkan tissu dari tasnya, dan membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di wajahku.
“Dess” bunyi tetes air matanya yang jatuh kelengan kiriku. Rupanya dia tak kuasa melihat aku yang hampir memar disekujur tubuh. Tangisnya mengingatkanku pada ibu yang dulu juga pernah menangis setelah melihatku berdarah karena jatuh dari sepeda. Aku jadi merasa berdosa telah membuat ibu dan mbak Vida menangis. “Ya Allah, balaslah dia dengan ridha dan surgamu!”. doaku dalam hati sambil aku dirangkulnya dibawa ke dalam kelas.
***
Didalam kelas, mbak Vida banyak bercerita tentang peta perpolitikan kampus. Semasih semester lima, dia pernah dicalonkan menjadi presiden Fakultas oleh sebuah organisasinya. Karena dari mulai semester satu dia sudah memnunjukkan taring kemampuannya didalam mengelola organisasi dan sering membuat kritikan keras terhadap dosen-dosen yang tidak disiplin. Terbukti ketika akhir-akhir semerter satu, dia dan teman-teman sekelasnya memboikot salah satu dosen yang tidak beres dan akhirnya dosen itu dikeluarkan dari kampus. Mulai saat itulah, dia dikenal banyak mahasiswa.
Ketika para kandidat presiden sudah diumumkan oleh komisi pemilihan kampus (KPK). Ada dua calon presiden fakultas yang dinyatakan berhak mengikuti pemilihan, salah satunya adalah pasangan Vida-Ivan (VIVA). Mayoritas mahasiswa menyambut dengan suka cita dan banyak berharap pada pasangan VIVA agar perpolitikan kampus bisa dikembalikan pada rel kebenaran.
Masa kampanye pun sudah dimulai, tidak hanya timnya yang bergerak menyosialisasikan pasang itu tapi mahasiswa yang merasa bangga terhadapnya juga turut mengajak mahasiswa yang lain agar mendukung pasangan itu. Begitu antusiannya mahasiswa, membuat tim pasangan calon Amin-Hasan, merasa kebingungan dan akhirnya mereka melobi KPK agar membuat keputusan yang sekiranya akan membuat VIVA kalah. Karena panitia pemilihan itu kebanyakan dari orangnya Amin-Hasan, maka dikeluarkannlah peraturan bahwa semua pasangan harus hadir ketempat pemilihan sebelum pencoblosan dimulai dan harus menempati mimbar yang telah disediakan panitia hingga pencoblosan usai.
“Peraturan yang bagus”. Kata semua tim pemenangan VIVA, karena dengan begitu banyak mahasiswa yang tidak akan ragu lagi terhadap pasangan VIVA. Akan tetapi, ternyata keputusan itu dimaksudkan lain oleh KPK. Pada waktu malam pemilihan, Mbak Vida diajak rundingan oleh salah satu tim sukses Amin-Hasan disebuah warung kopi. Tiba-tiba ada delapan preman datang dan memaksa Mbak Vida dan teman rundinganya masuk ke mobil yang berpisah. Tak kuasa menolak, mbak Vida terpaksa masuk ke mobil itu. Didalam mobil, mata dan mulutnya di beri lakban sehingga ia tidak bisa menjerit minta tolong.
Tim pemenangan VIVA kebingungan. Karena hingga menjelang pemilihan mbak Vida belum juga datang dan pada akhirnya KPK memutuskan tidak bisa mengikuti pemilihan karena sudah melanggar peraturan.
“Dik, begitulah cerita yang aku alami. Aku sama sekali tidak punya dendam sama mereka, hanya saja aku cemas, takut nanti bangsa ini di kuasai oleh orang yang hidup tapi mati, seperti mereka”. Tandas mbak Vida mengakhiri cerita potret perpolitikan kampusnya.    

0 Response to "Matinya Kaum Idealis"

Posting Komentar