“Jadi orang jangan sok idealis dong, biar gak nyesal kemudian, baru aja masuk semester lima udah sok-sokan” Ucap Hendra lima tahun yang lalu sesaat sebelum pemilihan presiden fakultas dilaksanakan. Dia bilang seperti itu karena aku mengkampanyekan pemilihan bebas dan demokratis. Tapi mungkin karena hatinya sudah kotor kalau tidak mau dibilang busuk, apa yang aku lakukan dianggap tidak baik. Sampai sekarang, ucapannya yang memojokkanku ditengah-tengah kerumunan mahasiswa yang hendak mencoblos itu, terus terngiang dalam pikiranku Seakan sudah tercatat dengan tinta emas.
Tak ada maksud untuk mengobrak-abrik suasana demokrasi ala mahasiswa di kampusku. Spontan aku menarik tangan Yesi yang membagi-bagi sertifikat kepada mahasiswa yang hendak mencoblos. Dalam hati, aku bermaksud untuk menghentikan praktik yang tidak waras itu. Setelah ditanya tentang tindakan yang mematikan nilai demokrasi itu, dia pun bungkam seribu bahasa dan tidak memberi tahu alasan membagi-bagi sertifikat berlevel internasional itu. Tapi yang jelas, walaupun dia tidak mengaku, aku bisa membaca maksudnya. Karena Yesi termasuk pada daftar nama tim sukses salah satu kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden fakultas. Tiba-tiba Pikiran negatifku langsung terbang kemana-mana. Sehingga menganggapnya menyogok pemilih agar mencoblos jagoannya. Dan itu dibenarkan oleh teman-teman yang kebetulan masih membenci prilaku kayak itu.
Read More
0 Comments
