أساليب تعليم الإملاء في الابتدائي


ملخص من كتابات الأستاذ/ بهاء الدين الزهوري
الهدف من درس الإمل: 1.
1-
تعويد الطلاب الكتابة الصحيحة المنظمة السريعة للكلمات 0
2-
ربط عملية الكتابة بالفهم والإفهام أي بوظيفة اللغة الأساسية 0
3-
تزويد الطالب بألوان من الثقافة 0
4-
توضيح الصلة الوثيقة بين النحو و مبادئ الإملاء ، فكلاهما وسيلة لضبط اللغة 0
5-
تعويد الطلاب الخط من خلال الكتابة 0
6-
الاستفادة من نص الإملاء في حسن التعبير الشفوي والكتابي 0
7-
إكسابهم عادات ومهارات من درس الإملاء ، منها : حسن الإصغاء ودقة الملاحظة ، والنظافة ، واستخدام علامات الترقيم ، وملاحظة الهوامش ، وتقسيم الكلام إلى فكر تعرض بفقرات مستقلة 0

Pulau Pejinan

“Ibu…….. ada hantu, dia mengajakku pergi setiap hari”
Tangis Lisa ketakutan di sudut kamarnya setiap hari. Dia baru menempati rumah itu sebulan yang lalu. Rumah yang ia tempati sejak Lisa masih berumur satu hari dari ditemukannya hingga berusia tiga tahun sepuluh bulan harus digusur karena membangun diatas tanah perusahaan asing. Lisa ditemukan di pinggir pantai didalam peti yang masih basah. Dikira anak itu dibuang oleh orang tuanya dan dihanyutkan bersama hempasan gelombang air laut yang pada waktu itu gelombang sangat besar karena bertepatan dengan musim angin yang oleh orang jawa termasuk angin kepitu.
Setelah anak itu dibawa kerumah yang menemukan, banyak orang yang melarang untuk mengasuhnya karena ada tanda hitam di mata kakinya yang menurut cerita rakyat, orang yang mempunyai tanda hitam di mata kakinya adalah keturunan dari Nyai Pajinna yang tinggal di pulau Pahatan yang merupakan manusia keturunan Jin. Sehingga pulau itu dikenal dengan sebutan pulau Pejinan. Akan tetapi Ibu Mirna yang menemukannya tidak menghiraukan cerita itu karena dia percaya kalau menemukan anak pasti rejekinya akan lancar, sehingga dia tetap mengasuhnya seperti mengasuh anaknya sendiri.

Matinya Kaum Idealis

 “Jadi orang jangan sok idealis dong, biar gak nyesal kemudian, baru aja masuk semester lima udah sok-sokan” Ucap Hendra lima tahun yang lalu sesaat sebelum pemilihan presiden fakultas dilaksanakan. Dia bilang seperti itu karena aku mengkampanyekan pemilihan bebas dan demokratis. Tapi mungkin karena hatinya sudah kotor kalau tidak mau dibilang busuk, apa yang aku lakukan dianggap tidak baik. Sampai sekarang, ucapannya yang memojokkanku ditengah-tengah kerumunan mahasiswa yang hendak mencoblos itu, terus terngiang dalam pikiranku Seakan sudah tercatat dengan tinta emas.
Tak ada maksud untuk mengobrak-abrik suasana demokrasi ala mahasiswa di kampusku. Spontan aku menarik tangan Yesi yang membagi-bagi sertifikat kepada mahasiswa yang hendak mencoblos. Dalam hati, aku bermaksud untuk menghentikan praktik yang tidak waras itu. Setelah ditanya tentang tindakan yang mematikan nilai demokrasi itu, dia pun bungkam seribu bahasa dan tidak memberi tahu alasan membagi-bagi sertifikat berlevel internasional itu. Tapi yang jelas, walaupun dia tidak mengaku, aku bisa membaca maksudnya. Karena Yesi termasuk pada daftar nama tim sukses salah satu kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden fakultas. Tiba-tiba Pikiran negatifku langsung terbang kemana-mana. Sehingga menganggapnya menyogok pemilih agar mencoblos jagoannya. Dan itu dibenarkan oleh teman-teman yang kebetulan masih membenci prilaku kayak itu.