Kebijakan yang Tak Pernah Bijak; Sekolah Bertaraf Internasional VS Pendidikan Karakter

Pendidikan merupakan salah satu penentu bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan. Karena dengan pendidikanlah manusia bisa mengetahui apa-apa yang harus dilakukan dan apa-apa saja yang harus ditinggalkan. Oleh karena itulah desain pendidikan harus terus diupayakan kearah yang lebih baik, yaitu desain pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa harus tergerus oleh kemunafikan zaman.
Tentunya pendidikan disini tidak hanya terpaku pada pendidikan formal tetapi juga berlaku pada pendidikan non formal dan informal. Sebagaimana tripusat pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara; keluarga, masyarakat dan sekolah adalah pusat pendidikan bagi umat manusia baik secara langsung maupun tidak. Tiga pusat pendidikan itulah yang telah terbukti bisa mencetak perkembangan manusia baik mencetak kearah yang lebih baik ataupun kearah kehancuran moral. Tetapi karena yang menjadi sorotan publik akhir-akhir ini adalah pendidikan formal, maka tulisan ini akan difokuskan pada kebijakan-kebijakan pendidikan formal yang terus dibenahi guna menjawab tantangan global yang dirasa menggelitik hati penulis.

Nilai bukan ukuran kualitas siswa

Dengan menangnya SMPN 1 Tulungagung dalam ujian nasional kemarin (2010), banyak orang yang mulai melihat sekolah-sekolah pinggiran yang ternyata juga tidak kalah kualitasnya dengan  sekolah-sekolah perkotaan, karena Tulungagung telah membuktikan pada public bahwa sekolah pinggiran juga bisa bersaing dengan sekolah perkotaan yang di anggap lebih berkualitas dan lebih mahal dari sekolah pinggiran.
Banyak orang yang telah menulis di berbagai media cetak yang sangat apresiatif terhadap sekolah pinggiran. Mereka memuja-muji pendidikan pinggiran. Namun yang sangat mengganjal dalam hati saya, semua tulisan di berbagai media yang terkait dengan menangnya sekolah pinggiran itu dan mencap bahwa sekolah pinggiran juga bisa bersaing dan kualitasnya juga tak kalah dengan sekolah perkotaan. Mereka masih dipenuhi oleh paradigma positivistic.

Pendidikan Tanpa Koneksi; bulsit!

“Ellu nyuru gue ngejelasin pentingnya pendidikan, sedangkan gue sendiri tidak yakin pendidikan itu penting”
“Waktu gue kuliah, gue pikir pendidikan itu penting, tapi setelah gue keluar kuliah baru ngerti ternyata pendidikan itu tidak penting”

Begitulah cuplikan menarik dari film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Cuplikan itu diambil dari pemeran Samsul yang mempunyai gelar sarjana pendidikan. Dia baru merasakan bahwa pendidikan itu tidak penting dan tidak bermanfaat sama sekali untuk dia bahkan juga untuk orang lain setelah lulus dari kuliahnya. Padahal  dulunya, dia mendewa-dewakan yang namanya pendidikan. Mungkin, ia sudah termakan oleh pemahan kebanyakan orang bahwa dengan pendidikan manusia bisa berguna dan akan mendapatkan penghidupan (pekerjaan) yang layak. Makanya ia susah payah melanjutkan keperguruan tinggi, namun akhirnya penyesalan yang ia dapat.